Pages - Menu

Sunday, 5 April 2009

Obama: London Summit Titik Balik Krisis Ekonomi

Assalamualaykum w.b.t

p/s - maaf tak sempat nak edit tetapi sempat highlight isi penting..


Pertemuan puncak negara G20 yang terdiri dari negara maju dan ambang industri penting dunia berakhir, Kamis (02/04). Para peserta menyatakan puas dengan hasil akhir konferensi.

"Dari semua segi, London Summit adalah pertemuan bersejarah. Konferensi ini memiliki nilai historis karena besar dan cakupan tantangan yang kita hadapi dan karena ketepatan waktu serta besarnya reaksi kita untuk mengatasinya." Demikian diungkapkan Presiden AS Barak Obama di akhir pertemuan puncak negara G20 di London, Kamis malam (02/04) waktu setempat. Obama mengatakan, G20 berhasil menyepakati serangkaian langkah komprehensif dan terkoordinasi untuk mengatasi krisis ekonomi global.

Sebenarnya, di awal pertemuan Amerika Serikat dan Inggris mendesak untuk meningkatkan penyediaan paket stimulus nasional untuk mendongkrak ekonomi, langkah yang antara lain didukung negara-negara ASEAN. Namun, sebagian negara Eropa menolak usulan ini. Jerman dan Prancis lebih fokus pada regulasi lebih ketat bagi pelaku dan pasar keuangan.

Di akhir pertemuan, kedua kubu puas dengan suatu kompromi. Presiden Prancis Sarkozy menyatakan: "Masa jaya dilindunginya rahasia perbankan sudah lama berakhir. Negara G20 menandatangani perjanjian untuk itu. Daftar sanksi bagi negara pemberi keuntungan pajak yang tidak kooperatif akan disiapkan. Di sela-sela konferensi kami meminta OECD untuk meluncurkan daftar nirwana pajak dunia."

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) segera menjawab permintaan G20. Kamis (02/04) kemarin, OECD meluncurkan daftar negara-negara yang tidak memberlakukan standar pajak internasional yaitu Costa Rica, Filipina, Malaysia dan Uruguay. Selain itu, OECD menyebutkan sejumlah negara yang tidak sepenuhnya menjalankan standar perpajakan, seperti Swiss dan Luksemburg.

Walau tak menetapkan peluncuran paket stimulus ekonomi besar-besaran, namun peserta pertemuan puncak di London menyepakati pengucuran dana sekitar lima triliun Dollar sampai akhir 2010 untuk mengatasi dampak krisis ekonomi. Negara G20 menyediakan dana sebesar 1,1 triliun Dollar bagi Dana Moneter Internasional (IMF) dan sejumlah lembaga keuangan global lainnya.

Selain itu, dalam komunike akhir juga ditetapkan reformasi dalam badan IMF. Negara ambang industri, berkembang dan miskin mendapat hak suara dan representasi lebih baik. Butir ini menjawab tuntutan negara ASEAN yang mendukung reformasi Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional, dan Cina yang di awal pertemuan menuntut tatanan ekonomi global. Presiden Afrika Selatan Kgalema Motlanthe, satu-satunya wakil negara Afrika di G-20 mengaku cukup puas dengan hasil London Summit.

Namun, sejumlah pakar dan pengamat ekonomi tetap skeptis bahwa rencana aksi dan kebijakan yang dirumuskan dalam komunike akhir pertemuan G20 sudah cukup untuk mengatasi krisis ekonomi. Presiden AS Obama mengaku, walau menurutnya London Summit adalah suatu titik balik, namun tetap tak ada jaminan bahwa resesi tak berubah menjadi depresi ekonomi.

"Saya tidak setuju dengan pendapat bahwa Amerika Serikat tak dapat memimpin dunia. Saya tidak hadir di sini bila saya tidak yakin bahwa kami dapat berkontribusi dalam hal-hal penting. Dalam dunia yang kompleks ini sangat penting bagi kita untuk menjalin kemitraan dan tidak hanya mendiktekan suatu solusi.

No comments: